Product :
Tampilkan postingan dengan label Timur Tengah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Timur Tengah. Tampilkan semua postingan

Diembargo, Iran-Kuba Lawan Kapitalisme

Written By T Noval Ariandi on Minggu, 22 Juli 2012 | 22.28

Duta Besar Iran untuk Kuba, Ali Chegini, mengatakan, Tehran dan Havana memperkuat front global untuk melawan kapitalisme dalam menghadapi embargo Barat terhadap dua negara revolusioner itu.

Ali Chegini menunjukkan bahwa volume perdagangan tahunan antara Iran dan Kuba akan segera melebihi satu miliar dolar, sehingga  menjadi model yang sukses  dalam hubungan dua negara revolusioner dan anti-imperialis di dunia.

Diplomat Iran itu mencatat bahwa lima dekade sanksi terhadap Kuba dan tiga dekade embargo terhadap Iran telah memberikan pengalaman yang luas untuk menghindari kendala tersebut, dan memungkinkan kedua negara meningkatkan hubungan mereka di semua bidang.

"Meskipun secara geografis berjauhan, kedua negara memiliki pandangan kolektif tentang isu-isu internasional termasuk tuntutan keadilan global, Palestina, pelucutan senjata, HAM dan kedaulatan bangsa-bangsa dunia, " kata Chegini.

Sanksi-sanksi yang dilancarkan AS dan Uni Eropa terhadap Iran bertujuan untuk menekan Republik Islam atas program energi nuklirnya. Washington dan Tel Aviv menuding program nuklir sipil Iran  mencakup aspek militer.

Tehran menolak tuduhan tersebut, dengan alasan sebagai penandatangan traktat non-proliferasi nuklir (NPT), dan anggota Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Iran berhak menggunakan teknologi nuklir untuk tujuan damai. (Sumber)

Israel Takut Hizbullah Kuasai Senjata Kimia

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan Presiden Suriah Bashar al-Assad akan segera jatuh, dalam hitungan hari.

“Saya rasa rezim Suriah itu akan jatuh. Saya tidak tahu apakah dalam hitungan minggu atau bulan, tetapi saya rasa tidak lama lagi,” ujarnya.

Muncul di acara televisi Fox News Sunday, Perdana Menteri Netanyahu mengatakan khawatir kekacauan di Suriah bisa mengakibatkan senjata kimia jatuh ke tangan musuh-musuh Israel.

“Bisakah dibayangkan Hezbullah – kelompok yang, dengan Iran, melakukan semua serangan teror di seluruh dunia – bisa punya senjata kimia? Itu seperti al-Qaida punya senjata kimia. Sesuatu yang tidak bisa kami terima,” tandasnya lagi.

Perdana Menteri Netanyahu menolak menspesifikasi apa yang mungkin atau tidak mungkin dilakukan. Ia mengatakan, “Apakah saya akan bertindak? Tidak. Apa saya akan merintanginya? Tidak juga.”

Perdana Menteri Israel itu mengulangi pendiriannya bahwa Hezbullah didukung oleh Iran, bertanggung jawab atas pemboman bunuh diri minggu lalu di Bulgaria yang menewaskan lima warga Israel dan mencederai beberapa lainnya. Hezbollah tidak berkomentar mengenai insiden itu. Iran menyangkal tuduhan itu dan mengatakan pihaknya mengecam semua tindakan teror.

Muncul dalam program televisi CBS, Face the Nation, Perdana Menteri Netanyahu menolak berkomentar mengenai laporan-laporan berita yang mengutip para pejabat Israel, mengatakan mereka bekerja sama dengan intelijen Inggris untuk mencegah kemungkinan serangan teroris dalam Olimpiade London.
Empat puluh tahun lalu, 11 atlet Israel tewas dalam pertandingan Olimpiade di Münich.(Sumber)

Israel Masukkan Iran dalam Daftar Terorisme Internasional

Israel melalui dua orang pentingnya, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Menteri Luar Negeri Avigdor Liberman melakukan kampanye untuk memasukkan Iran dan Hizbullah dalam daftar hitam terorisme Internasional.

Perdana Menteri Israel, melakukan kampanyenya terhadap publik AS dengan tampil dalam acara CBS's the Nation dan Fox News Sunday, Ahad kemarin. Dalam siarannya itu, Netanyahu kembali menyebut bahwa Hizbullah berada di balik serangan bom yang menyerang satu bus di bandara Bulgaria yang menyebabkan lima warga Israel dan seorang warga Bulgaria tewas.

"Saya tahu, berdasarkan data intellijen yang begitu kuat, ini adalah Hizbullah, dan ini adalah sesuatu yang diketahui oleh Iran," ungkapnya.

Netanyahu menambahkan, Israel meyakini tanpa sedikit pun keraguan bahwa operasi itu dilakukan dengan dorongan, perintah dan koordinasi Iran.

Netanyahu menyebut, sangat mudah untuk mengetahui Hizbullan berada di balik serangan itu.  Satu minggu sebelum serangan, seorang pria yang mengaku agen Hizbullah ditangkap di Siprus ketika tengah mempersiapkan satu serangan yang persis dengan serangan di Bulgaria.

"Tepat hal yang sama: dimana dia akan ke bandara, mengumpulkan informasi untuk melakukan serangan pada wisatawan Israel yang turun dari pesawat dan akan naik bus," katanya."Jadi, persis modus operandinya sama dengan Siprus. Untungnya teroris itu ditangkap, ia mengaku bekerja atas nama Hizbullah, panjang tangan dari Iran," tambahnya.

"iran dan Hizbullah telah mencoba melakukan serangan di 24 negara selama dua tahun terakhir," Netanyahu mengatakan.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Avigdor Liberman akan mengkampanyekan hal yang sama dalam pertemuan Uni Eropa-Israel, Senin.

Liberman diharapkan dapat meyakinkan bahwa Hizullah bertanggungjawab atas kekerasan dan kurangnya stabilitas di Timur Tengah hingga mewajibkan Uni Eropa untuk mengambil tindakan.

Liberman dijadwalkan bertemu dengan Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Catherine Ashton serta para menteri luar negeri dari Prancis, Inggris, Bulgaria, Estonia, Republik Ceko, Belanda, Kroasia, Swedia, Belgia, Slovakia dan Siprus. (Sumber)

Iran Klaim Rudal dan AL-nya tak Tertandingi

Written By T Noval Ariandi on Rabu, 18 Juli 2012 | 06.40

Komandan Quds, Mayor Jenderal Angkatan Qasem Soleimani mengatakan musuh-musuh negara tak memiliki kemampuan melawan rudal dan kekuaran Angkatan Laut Pengawal Revolusi Islam (IRGC).

"Hari ini, musuh tidak bisa mencegah kemajuan dan peningkatan militer Iran serta kekuatan pertahanan dalam berbagai bidang termasuk teknologi rudal. Kekuatan angkatan laut IRGC dan kemajuan pesat dalam bidang tersebut," kata Mayor Jenderal Soleimani, seperti dilaporkan Press TV, Senin, (16/7).

Dalam beberapa tahun terakhir, Iran mampu membuat terobosan penting di sektor pertahanan, mencapai swasembada dalam memproduksi peralatan militer penting dan sistem dan kesiapan pasukannya dengan mengadakan latihan secara berkala.

Pada awal Juli lalu, percobaan pernah dilakukan IRGC dengan menembakkan rudal buatan dalam negeri dalam latihan militer tiga hari dengan nama sandi Nabi Besar 7.

Rudal-rudal seperti Shahab sudah diuji kemampuannya, termasuk Shahab 1, 2 dan 3, Khalij Fars, Tondar, Fateh dan Zelzal serta Qiam.

Pada Desember 2011, Angkatan Laut Iran juga melakukan manuver selama 10 hari dengan kode Wilayah 90 dalam latihan yang digelar angkatan laut. Latihan itu mencakup kawasan membentang dari timur Selat Hormuz di Teluk Persia hingga ke Teluk Aden.

Berbagai kelas berbeda dari kapal selam, termasuk Tareq dan Qadir, dan sistem rudal terbaru serta torpedo diuji coba dalam manuver tersebut.

Iran, berulang kali meyakinkan negara-negara lain, terutama tetangga regional, bahwa kekuatan militernya tidak menimbulkan ancaman bagi negara-negara lain, bersikeras bahwa doktrin pertahanannya semata-mata didasarkan pada pencegahan. (Sumber)

Pengawal Bunuh Menhan Suriah dan Ipar Assad

Menteri pertahanan Suriah dan ipar Presiden Bashar Al Assad, keduanya terbunuh dalam sebuah serangan bom bunuh diri. Demikian menurut laporan stasiun televisi pemerintah Suriah yang dikutip Euronews (18/7/2012).
Seorang pejabat keamanan mengatakan bahwa pelaku bom bunuh diri adalah seorang pengawal di lingkaran dalam Presiden Al Assad.
Serangan itu terjadi di markas besar pasukan rezim di Damaskus, dan terjadi saat ketegangan memuncak di ibukota Suriah.
Dua kelompok dikabarkan telah mengaku sebagai pelaku serangan, yang katanya juga memakan korban sejumlah pejabat penting Suriah lainnya.
Sebuah kelompok pemberontak dan Free Syrian Army sama-sama mengaku sebagai pelaku serangan itu.
Sebelum terjadi serangan, pihak pendukung pemerintah mengatakan bahwa kelompok oposisi akan dikalahkan.
“Menurut saya situasi di Damaskus lebih banyak berada di bawah kontrol pasukan pemerintah yang akan mengenyahkan para pemberontak di pusat-pusat kerusuhan tempat di mana mereka bentrok,” kata Adnan Abed pimpinan redaksi koran resmi Partai Baath.
Sementara itu Reuters yang mengutip saluran televisi Libanon Al Maydin melaporkan, disamping Menteri Pertahanan Daud Rajha dan ipar Assad yang tewas, sejumlah pejabat keamanan juga ikut terbunuh dalam serangan itu, sementara pertempuran terlihat terjadi dekat istana kepresidenan Assad.
Pasukan Garda Republik menutup daerah sekitar Rumah Sakit Shami di utara Damaskus, menunjukkan bahwa sejumlah pejabat mengalami luka-luka, kata aktivis yang dihubungi lewat telepon.
“Ledakan oleh teroris yang menarget bangunan keamanan nasional di Damaskus itu terjadi saat berlangsung pertemuan para menteri beserta sejumlah kepala badan keamanan,” lapor stasiun televisi itu. (Sumber)

Netanyahu Kehilangan Dukungan Partai Kadima

Saat Benjamin Netanyahu merayu Partai Kadima untuk masuk dalam koalisinya pada Mei lalu, koran-koran Israel menjuluki perdana menteri Israel itu dengan “Raja Bibi”. Kini sang raja sudah kehilangan pendukungnya.
Dilansir Euronews (8/7/2012), Kadima telah menarik diri dari koalisi mayoritas di parlemen, menyusul perdebatan tentang pengecualian Yahudi orthodoks dari kewajiban masuk dinas militer.
Kadima menguasai 28 kursi di Knesset yang memiliki 120 kursi. Netanyahu hanya kelebihan suara mayoritas 6, itu pun terdiri dari dukungan kelompok-kelompok sayap kanan yaitu orang-orang Orthodoks.
“Rakyat yang akan menjadi hakim bagi Benajamin Netanyahu, demikian pula sejarah. Sejarah tidak akan memandang ramah kepada mereka yang seharusnya bisa melakukan apasaja, tetapi memilih untuk tidak berbuat apa-apa,” kata pemimpin Partai Kadima Shaul Mofaz.
Yahudi ultra-Orthodoks –yang jumlahnya sekitar 60.000 orang-- menentang upaya yang ingin mengharuskan mereka masuk wajib militer. Dan Kadima, salah satu sekutu penting Netanyahu di parlemen, tidak mau lagi memberikan dukungannya kepada undang-undang yang dianggap warga Israel sebagai diskriminasi itu.
Warga Zionis Israel baik pria maupun wanita, jika sudah mencapai usia 18 tahun diharuskan ikut wajib militer selama 2-3 tahun. Seseorang dapat terhindar dari dinas militer jika ia memutuskan untuk belajar kitab suci Yahudi di sekolah-sekolah agama. Dan orang-orang Yahudi Orthodoks sebagian besar memilih untuk sekolah agama daripada masuk dinas militer. (Sumber)

Menteri Afganistan Lolos dari Serangan Bom

Written By T Noval Ariandi on Minggu, 15 Juli 2012 | 05.59

KUNDUZ, KOMPAS.com - Menteri pendidikan tingkat tinggi Afghanistan lolos dari pemboman oleh gerilyawan, Minggu (15/7/2012), serangan ketiga terhadap para pejabat tinggi yang terjadi dalam waktu tiga hari, kata gubernur provinsi.
Saat insiden terjadi, Menteri Obaidullah Obaid sedang berada dalam perjalanan antara provinsi Baghlan dan Kunduz di bagian utara ketika iring-iringan kendaraannya menghantam sebuah bom di tepi jalan --bom yang sama yang digunakan oleh para gerilyawan Taliban.
Sang menteri lolos tanpa mengalami luka-luka namun dua polisi yang mengawal iring-iringan tersebut terluka, kata Gubernur Baghlan Munshi Abdul Majeed kepada AFP.  Munshi menunjuk Taliban sebagai pelaku pemboman tepi jalan itu.
Dalam serangan terpisah hari Minggu, dua bom meledak hingga melukai 14 orang di provinsi Logar di selatan Kabul.  Ledakan bom kedua mengenai pasukan keamanan ketika mereka sedang berkumpul untuk menyelidiki ledakan pertama, kata polisi. Para korban sebagian besar adalah polisi, tentara, penyelidik intelijen, kata polisi.
Serangan bom itu terjadi satu hari setelah seorang pembom bunuh diri menewaskan seorang anggota parlemen terkemuka dan mantan panglima perang, Ahmad Khan.
Si penyerang menjadikan pesta pernikahan puteri Ahmad Khan, yang berlangsung di kota Aibak di sebelah utara provinsi Samangan, sebagai target.
Selain Ahmad, 16 orang juga kehilangan nyawa dalam serangan tersebut, sementara lusinan lainnya luka-luka.
Pada Jumat (13/7/2012), direktur urusan perempuan provinsi Laghman, Hanifa Safi, tewas ketika sebuah bom yang ditempelkan ke kendaraannya meledak. Suami Hanifa dan puteri mereka, yang juga terkena serangan itu, mengalami luka berat.
Pemboman bunuh diri dan pemboman tepi jalan merupakan senjata yang kerap dipakai oleh kelompok Taliban, yang melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan dukungan Barat di bawah kepempimpinan Presiden Hamid Karzai sejak rezim mereka terguling pada tahun 2001. (Sumber)

Israel Kerahkan Perisai Misil ke Dekat Mesir

Written By T Noval Ariandi on Kamis, 12 Juli 2012 | 12.38

YERUSALEM - Israel siap mengerahkan sistem pertahanan misil Iron Dome ke wilayah perbatasannya dengan Mesir. Senjata itu akan dimanfaatkan untuk menangkis serangan roket dari Jalur Gaza.

"Iron Dome akan di tempatkan di dekat Kota Eilat, sebagai bagian dari program relokasi persenjataan yang dilakukan secara rutin," ujar juru bicara militer Israel, seperti dikutip Reuters, Kamis (12/7/2012).

Perisai misil Iron Dome yang didanai oleh Amerika Serikat (AS) sanggup menghancurkan roket jenis Katyusha. Roket tersebut berkemampuan untuk menghancurkan target sejauh lima hingga 70 kilometer dan juga serangan mortar.

Belakangan ini, wilayah perbatasan Mesir dan Israel dinilai semakin rawan, terutama setelah Husni Mubarak jatuh dari tampuk kekuasaan Mesir. Kota Eilat juga pernah mendapat serangan misil dari wilayah perbatasan tersebut.

Pada Juni lalu, sekelompok bersenjata menyeberangi wilayah Sinai dan membunuh warga Israel. Sementara itu pada Agustus 2011, serangan yang serupa pun terjadi dan menewaskan delapan warga di Negeri Yahudi itu.

Mesir menjadi negara Arab pertama yang memiliki perjanjian damai dengan Israel. Namun saat ini, banyak dugaan yang menyebutkan bahwa kelanjutan dari perjanjian itu mulai terancam. Hal itu disebabkan karena Mesir telah dipimpin oleh presiden yang berasal dari fraksi Ikhwanul Muslimin.

Meski demikian, Presiden Mesir Mohammed Mursi diklaim akan terus menjaga perjanjian itu, meski dirinya tidak suka berinteraksi dengan Israel. Israel yang sempat menyambut kemenangan Mursi juga berharap agar perjanjian itu tetap ada. (Sumber)

Serbuan ke Asrama Polisi Tewaskan 9 Orang

Written By T Noval Ariandi on Rabu, 11 Juli 2012 | 23.41

Sejumlah lelaki bersenjata menembak mati sembilan polisi Pakistan dan petugas penjara di Lahore, Kamis (12/7/2012). Ini merupakan serangan kedua terhadap aparat keamanan di negara itu sejak pembukaan kembali jalur suplai NATO pekan lalu.

Polisi mengatakan, pada serangan fajar itu, 10 orang bersenjata menyerbu asrama yang ditempati sejumlah polisi dari wilayah konflik di timur laut Pakistan. Mereka berada di Lahore untuk menjalani latihan. Serangan serupa dilakukan terhadap sebuah kamp militer, Senin (9/7/2012).

Pembunuhan-pembunuhan itu meningkatkan kekhawatiran akan adanya gelombang serangan baru di Punjab, provinsi berpopulasi terbesar dan sangat penting dalam pemilihan umum yang akan datang.

Kepala kepolisian Punjab Habibur Rehman mengatakan, para penyerang datang dengan tiga sepeda motor dan satu mobil. Mereka bersenjata Kalashnikov dan granat tangan. Orang-orang itu menyerbu salah satu gedung di kawasan padat Ichra, di mana sekitar 35 polisi dan petugas penjara tidur pada Kamis dini hari itu.

"Sejauh ini sembilan orang tewas dalam serangan ini," kata Rehman di lokasi serangan.

Sementara itu kepala polisi Lahore Aslam Tareen menambahkan, sembilan orang lain juga terluka.

Belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas seragnan itu. Namun polisi menuduh "geng yang sama" yang membunuh sembilan personel keamanan di kamp militer di Gujrat, Senin lalu.

"Semua organisasi yang sudah mati bekerja sama untuk menyerang aparat keamanan," ujar Rehman.

Seorang pejabat senior keamanan mengatakan pada AFP bahwa serangan Senin itu "kemungkinan besar" dilakukan oleh anggota sebuah organisasi terlarang yang bekerja sama dengan Taliban.

Lahore, yang berbatasan dengan India, dianggap sebagai ibukota budaya Pakistan. Kota berpenduduk 8 juta orang itu mengalami serangkaian serangan bom yang diduga dilakukan oleh Taliban dan militan terkait Al Qaed. (Sumber)

Ikhwanul Muslimim Serukan Jihad Lawan Israel

Written By T Noval Ariandi on Selasa, 10 Juli 2012 | 11.33

KAIRO - Pejabat tinggi fraksi Ikhwanul Muslimin (IM) Mesir Muhammad Badi menyerukan jihad melawan Israel. Badi juga menegaskan, seluruh umat Muslim harus berjuang untuk menyelamatkan Al-Quds (Yerusalem) dari tangan Israel.

"Umat Muslim harus melakukan perjuangan untuk membebaskan Yerusalem dari tangan Israel dan menyelamatkan Palestina dari pendudukan. Ini adalah tugas seluruh individu Muslim," ujar Badi, seperti dikutip Al Wafd, Senin (9/7/2012).

Media Jihad Watch memandang Badi sebagai kekuatan yang sebenarnya di Mesir, sementara itu Presiden Mohammed Mursi hanyalah boneka. Sejumlah pihak pun mengklaim, pernyataan Badi sama seperti Al Qaeda yang juga sering menyuarakan jihad.

Pada Minggu kemarin, Mursi mendapat undangan dari Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama ke Gedung Putih. Kunjungan itu akan dilakukan Mursi pada September mendatang. Mursi akan menjadi presiden Ikhwanul Muslimin pertama yang mengunjungi AS.

Selain itu, Mursi juga menerima undangan dari Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Gerakan Non Blok (KTT GNB) di Teheran pada 29 Agustus. Namun laporan itu sempat dibantah oleh kantor Presiden Mesir tepat pada pekan lalu.

Mesir dan Iran tidak memiliki hubungan diplomatik sejak Revolusi Islam Iran pecah pada 1979 silam. Namun seiring dengan tumbangnya Husni Mubarak di Mesir dan bangkitnya Ikhwanul Muslimin, hubungan bilateral itu tampaknya akan dibina.

Iran juga menjadi salah satu negara yang sangat menentang pendudukan Israel di wilayah Palestina. Begitu pula dengan kelompok Ikhwanul Muslimin yang juga merupakan pendukung fraksi Hamas di Gaza.(Sumber)

Al Qaeda Klaim Lakukan 40 Serang Mematikan di Irak

BAGHDAD - Sebuah kelompok militan yang terkait dengan Al Qaeda mengklaim pihaknya bertanggungjawab atas 40 serangan yang mematikan di Irak. Rangkaian serangan itu terjadi selama bulan Juni lalu.

Dalam pernyataannya dalam website mereka, kelompok Islamic State of Iraq yang memiliki kaitan erat dengan Al Qaeda, mengaku melakukan rangkain serangan bom. Rangkaian bom itu termasuk bom pinggir jalan, bom mobil dan penembakan atas umat Muslim Syiah dan pihak keamanan Irak.

Sekira 234 warga Irak dilaporkan tewas dalam serangan tersebut. Selama bulan Juni, serangan terjadi setidaknya setiap tiga hari dan menjadikannya bulan paling berdarah sejak pasukan Amerika Serikat (AS) akhir Desember lalu.

"Kami juga melakukan dua serangan bom mobil pada 16 Juni lalu, yang menewaskan 26 warga Syiah di Baghdad," keterangan kelompok Islamic State of Iraq tersebut, dalam website mereka yang dikutip Associated Press, Selasa (10/7/2012).

Pejabat Irak mengatakan, peningkatan kekerasan seperti menandakan masih adanya friksi di antara sekte dan kelompok etnis lainnya di negera itu. Selain itu, persaingan politik juga menjadi alasan meningkatnya aksi kekerasan.(Sumber)

Iran Yakin Bisa Hancurkan Semua Pangkalan AS di Timteng

Written By T Noval Ariandi on Minggu, 08 Juli 2012 | 07.03

Iran mengancam akan menghancurkan pangkalan militer AS di seluruh Timur Tengah dan menjadikan Israel sebagai sasaran cuma dalam beberapa menit setelah diserang, kata media Iran, Rabu (4/7/2012). Sementara itu Pengawal Revolusi Iran memperpanjang uji-coba penembakan rudal balistik pada hari ketiga, Rabu.
Israel telah mengisyaratkan kemungkinan menyerang Iran jika diplomasi gagal menghasilkan dihentikannya program nuklir Iran. Amerika Serikat juga telah membicarakan aksi militer sebagai pilihan terakhir, meskipun sering membujuk Israel untuk memberi waktu agar sanksi ekonomi yang ditingkatkan berhasil terhadap Iran.
"Semua pangkalan ini berada dalam jangkauan rudal kami, dan tanah pendudukan (oleh Israel) juga adalah sasaran bagus buat kami," kata Amir Ali Haji Zadeh, Komandan Divisi Udara Pengawal Revolusi, sebagaimana dikutip kantor berita Fars.

Haji Zadeh menyatakan 35 pangkalan AS berada dalam jangkauan rudal balistik Iran, yang paling canggih yang telah dikatakan para komandan bisa mengenai sasaran yang berjarak 2.000 kilometer.
"Kami telah mengukur jarak untuk mendirikan pangkalan dan menggelar rudal guna menghancurkan semua pangkalan ini dalam beberapa menit setelah serangan," ia menambahkan sebagaimana dilaporkan Reuters.
Tidak jelas dari mana Haji Zadeh memperoleh ukurannya mengenai pangkalan AS di wilayah tersebut. Instalasi militer AS di Timur Tengah berada di Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait dan Turki, dan AS memiliki sebanyak 10 pangkalan lagi di Afghanistan serta Kyrgyzstan.
Banyak pengamat pertahanan seringkali ragu mengenai apa yang mereka gambarkan sebagai pernyataan militer yang dibesar-besarkan oleh Iran dan mengatakan kemampuan militer negara Persia tersebut takkan bisa menandingi sistem pertahanan AS yang canggih.

Media Iran melaporkan ujicoba rudal yang berlangsung tiga hari dalam pelatihan militer yang dijuluki "Great Prophet 7", yang melibatkan puluhan rudal dan pesawat tanpa awak buatan dalam negerinya yang berhasil menghancurkan pangkalan udara dalam simulasi.
Korps Pengawal Revolusi Iran menguji-tembak rudal  Shahab 1,2,3, Fateh, Tondar, Zelzal, Khalij-e-Fars dan Qiam selama pelatihan militer "Great Prophet 7" itu.(Sumber)

Libiya Bersiap Lakukan Pemilu Demokratis Pertama Setelah 4 Dekade

Written By T Noval Ariandi on Jumat, 06 Juli 2012 | 11.13

Warga Libya sedang mempersiapkan diri untuk memberikan suara mereka dalam pemilu demokratis pertama setelah empat dekade di bawah pemerintahan diktator Muammar Gaddafi.

Pemungutan suara akan berlangsung pada hari Sabtu besok (7/6) untuk pemilihan anggota Umum Kongres Nasional, yang akan menunjuk pemerintah baru dan komisi yang menyusun konstitusi baru, AFP melaporkan pada hari Kamis kemarin.

Dewan Transisi Nasional (NTC), yang telah memerintah Libya sejak penggulingan Gaddafi, harus mengundurkan diri setelah kongres memegang sesi pertama.

Pemungutan suara yang semula dijadwalkan akan diadakan pada 19 Juni, adalah pemilu pertama negara Afrika Utara itu secara nasional sejak 1960-an pada saat Gaddafi melarang partai politik dan pemilu.

Lebih dari 2,7 juta orang, atau sekitar 80 persen dari pemilih yang memenuhi syarat, telah terdaftar untuk mengambil bagian dalam pemilu.

200-kursi anggota kongres akan dipilih dari antara lebih dari 2.500 kandidat independen dan lebih dari 140 entitas politik.

Konstitusi, yang membutuhkan dukungan dalam referendum nasional, akan berfokus pada isu-isu kunci seperti bentuk pemerintahan, peran perempuan dalam masyarakat, dan hak-hak minoritas.

Sebelumnya pada Kamis kemarin, NTC mengatakan bahwa sumber utama undang-undang di negara ini harus syariah Islam.(Sumber)

Demostran Koptik Akan Gelar Demodi Tahrir dengan Tema "Tidak Untuk Ikhwan"

Aktivis Mesir berencana untuk melakukan aksi di pusat Kairo Tahrir Square pada hari Jumat ini (6/7) untuk memprotes Ikhwanul Muslimin, dalam sebuah demonstrasi yang bertajuk "Tidak untuk Ikhwan."

Aksi protes dilaporkan direncanakan oleh Uni Pemuda Maspero, sekelompok Koptik revolusioner dan sejumlah pendukung militer.

Kelompok-kelompok yang mengambil bagian dalam aksi protes hari Jumat ini minta Mursi meninggalkan kekuasaan, menurut laporan dari Al Arabiya TV.

Jumat pekan lalu, Mursi bergabung dengan puluhan ribu demonstran di Tahrir Square pada hari Jumat untuk merayakan kemenangannya dan melakukan tekanan pada militer yang berkuasa untuk memulihkan parlemen dan menyerahkan kekuasaan kepada pemerintahan sipil.

"Tidak ada kekuatan di atas kekuatan rakyat," kata Mursi di tengah sorak-sorai massa yang memadati Tahrir Square.

Jumat ini, Tahrir juga akan mengakomodasi aksi protes dari kelompok lain: yaitu perempuan Mesir yang memprotes kekerasan seksual yang meningkat di negara ini.

Halaman Facebook, berjudul "Tahrir Aman untuk Perempuan", telah meminta pria dan wanita untuk bergabung dalam aksi untuk menunjukkan penolakan mereka terhadap kekerasan yang ditujukan terhadap perempuan di alun-alun Tahrir.

"Kami ingin penguasa untuk bertindak sebagai penjaga untuk melindungi perempuan dari preman yang telah melecehkan perempuan di alun-alun. Kami ingin menangkap penjahat yang menghancurkan reputasi revolusi, mengekspos dan mempermalukan mereka, dan membawa mereka ke pengadilan," tulis pernyataan di halaman Facebook.

Kampanye ini telah diluncurkan setelah terjadinya puluhan serangan kekerasan terhadap perempuan di Tahrir bulan lalu.(Sumber)

Satu Lagi Jenderal Assad Membelot dan Pergi ke Perancis

Brigadir Jenderal Suriah Manaf Tlas yang membelot ke Turki pada Kamis kemarin (5/7), menurut Reuters, telah meninggalkan Damaskus dan sedang dalam perjalanan menuju ke Paris, kata seorang teman dari keluarga dekat jenderal itu kepada kantor berita Jumat hari ini (6/7).

Tlas yang memimpin sebuah unit dari elit Garda Republik dan pernah menjadi sekutu lama Presiden Bashar al-Assad, tiba di Turki pada Kamis kemarin dari Suriah dan berangkat menuju ke Perancis di mana ayahnya Mustafa Tlas, mantan menteri pertahanan sekarang tinggal, kata teman keluarganya.

Garda Republik adalah pasukan pengawal khusus presiden. Selama pemberontakan 16 bulan terakhir, dia salah satu tangan kanan Assad. Bila Tlas membelot, dipastikan kekuatan rezim Suriah berkurang. Keputusan jenderal berbintang satu ini juga berpontensi memancing desersi perwira tinggi lainnya.

Lebih dari 100 negara bertemu di Paris pada hari Kamis kemarin dalam acara "Friends of Syria" untuk membahas diakhirinya krisis 16-bulan berdarah di Suriah, yang aktivis klaim telah menewaskan lebih dari 16.500 orang.

Menteri Luar Negeri Prancis Laurent Fabius Jumat ini mengkorfirmasi bahwa Tlas telah membelot dan menuju Paris.

"Saya dapat mengkonfirmasikan bahwa dia telah membelot dan sedang dalam perjalanan ke Perancis," kata Fabius pada pertemuan para pemimpin dunia dan oposisi Suriah di Paris.

Tlas adalah salah seorang pejabat tinggi militer yang telah meninggalkan rezim Suriah didampingi oleh 23 perwira lainnya yang membelot menurut laporan Reuters.

"Sebuah sumber keamanan tingkat tinggi telah mengkonfirmasi melarikan diri dari Umum (Manaf) TLAS ke Turki," kata website Syriasteps, yang memiliki link ke aparat keamanan Suriah, Kamis malam.

Tlas, 46 tahun, adalah sahabat Assad. Mereka seangkatan saat menempuh pendidikan di sekolah militer. Keluarga Tlas banyak mengabdi di kabinet Suriah. Ayah Tlas, Mustafa Tlas, dulu menjabat Menteri Pertahanan di masa pemerintahan Presiden Hafez al-Assad.

Juru bicara oposisi Pasukan Pembebasan Suriah, Riad al-Asaad, mengaku terlibat dalam pembelotan Tlas. "Orang kami menjemput dia di perbatasan Turki," kata dia.

Sumber Aljazeera mengungkapkan Tlas memutuskan membelot karena pembantaian di Provinsi Homs tidak berhenti hingga sekarang. Padahal keluarga besar Tlas tinggal di Kota Rastan, wilayah tengah provinsi basis oposisi tersebut.(Sumber)

Populer

.:: eramuslim.com ::.

Aqidah dan Fiqih

More Post »

Asean

METRO TV NEWS AKTUAL

« »
« »
« »
Get this widget